Rabu, 13 Oktober 2010

TOHIDIN TOIPAH Episode 3 : Bukan puisi, dari hati untuk toipah


Ditulis Oleh Edi Siswoyo
Diunggah Oleh Edi Siswoyo

Setelah menyeka keringatnya dengan sapu tangan warisan almarhum bapaknya KI KUSUMA WIDJAJA(karena cuma itu yang bapaknya wariskan selain hutang dan terbukanya rahasia bahwa ternyata tohidin bukan anak tunggal,saudara tirinya banyak, ternyata...), Tohidin gontai melangkah menuju panggung, Seperti caleg/pejabat saat pawai, yang terpaksa tersenyum agar terkesan ramah (bahasa infotainmentnya Ja.Im : Jaga Imej), padahal imej/anggapan terbentuk bukan karena paksaan semuanya adalah proses refleksi otomatis dari tingkah laku manusia yang sebenarnya, bukan bikinan alias digawe-gawe,tohidin pun melakukan hal yang sama, tersenyum sekedar penghalau menutupi rasa bingunganya, yang nyatanya tak mampu menutupi apa yang tersirat dalam hatinya, setelah tohidin diatas panggung, kemudian sang MC memberikan mic-nya ke tohidin, seperti tak kuasa memegangganya karena rasa gemetar yang dirasakan, tohidin akhirnya menaruh mic pada standmic yang tepat berada didepannya, kemudian tohidin mengucapkan beberapa kata pembuka “Assalamualaikum wr, wb, Selamat siang dewan juri yang saya hormati, dewan guru yang saya patuhi, dan teman-teman sekalian yang saya cintai, terima kasih telah memberikan saya kesempatan untuk membacakan karya saya…puisi saya, yang saya tujukan untuk seseorang yang berada disini…dan semoga bisa mewakili perasaan teman-teman, yang sedang merasakan hal yang sama saya rasakan..”(Sok Bahasa Indonesia tapi logat tegale masih kentel nemen kaya kueeee…), Kemudian tohidin menundukan kepalanya entah berdoa atau sedang membaca mantra sirep,tohidin terbatuk kecil dan membuka gulungan 2 kertas lusuh ditanganya kemudian dia mulai membacanya :


“Sajak Untuk Sebuah Nama”

Selamat malam bintang
Apakah kau marah padaku malam ini?
Hingga benderangmu tak menjumpaiku, malam ini
Dipantai, diberanda rumahku aku tak menemukanmu

Pada dirimu...bintang
Apa yang hendak kau pinta dariku
Kidung nan merdu atas namamu
Biarlah malam memberi gelap kelabu
Sedang kaulah benderangku

Pada dirimu...bintang
Apa yang hendak kau ceritakan padaku
Jika rindu mengharu biru itu hadir dariku untukmu
Biarlah aku yang bisu hilang dan beku
Sedang namamu menjamasi hatiku

Aku melukismu ditanganku
Agar aku tak memohon lagi untuk mengambil sedikit sinarmu
Aku cucukan penaku pada hatimu
Agar semua kata yang ku tertulis terilham darimu

Inilah ungkapan rasaku
Inilah permohonan bodohku
Inilah makna dari selaksah ketidakjelasan dari sudut hatiku
Inilah rasa yang langgeng hayat dalam jiwa tak terucap dari bibirku
Inilah tuturan dalam kesadaran dan keabadianku

Untuk sebuah nama, bintangku
Untuk sebuah nama,bintang…benderangku
Untuk lirih suaraku, jawablah pertanyaanku?
Untuk damai jiwaku, aku hanya memohon pada percayaku?

Jika jalan itu ada tunjukanlah padaku
Jika rasa itupun kau rasakan sambutlah aku
Jika tak ada waktu untuk menghiraukan cintaku
Setidaknya tahulah“Bahwa, aku..aku..cukup bahagia dengan senyumu”

Jika itupun tak cukup
Biarlah kematian yang akan menilai dan menakar semuanya
Karena benih dari lagu-lagu jiwaku takan pernah kau temukan dalam kehidupan
Semuanya tak ada nilai semasa hidup sebelum aku mati
Biarkanlah bibir kematian yang akan mengungkapkan semuanya

Demikian yang mampu kuturkan
Andai engkau ingin tahu kebenaran itu
Hanya dalam kalbuku saja semuanya tersimpan
Lebih dari yang mampu kutulis dalam kertas ini
Karena dalam palung hasrat terkandung lebih banyak definisi
Ketimbang yang tergenggam dalam tangan dan yang keluar dari kesepakatan lidah dan bibir ini

Ambilah semuanya jiwa dan hatiku
Ciumlah semuanya raga dan cintaku
Aku sungguh-sungguh tak bisa tidak mencintaimu
Aku tak sadar, aku hilang dalam senyummu

Tak lebih besar inginku
Jika kau tak bisa menyambut esok bersamaku

Semoga setiap malam kan kutemukan wajahmu yang berbinar bintang
Sementara kau berprasangka ruangku gulita
Yang kau tak tahu sinarmu berpendar mengisi sudut-sudutnya
Dan diiakhir musim ini biarlah kuambil sedikit sinarmu,bintang

Untuk sebuah nama, bintang…
Aku masih berfikir dan terus berfikir
Tak akan pernah berhenti menyayangimu
Kau…kau…saja, bintang…benderangku (sambil menunjuk kearah toipah…)

Untuk sebuah nama, bintang
Aku tak akan lelah mengatakan "aku sangat mencintaimu"
selama waktu masih memberiku banyak kesempatan

Untuk sebuah nama, bintang
Aku akan terus mempersembahkan semua pengorbanan pada altar hatimu
Semoga tiupan angin-Nya akan membukakan pintu rahasia hatimu
Untuku...untuku...untuku...bintangku...

Terima Kasih….

Disambut dengan tepuk riuh dewan juri, para guru, dan para penonton, kemudian sang MC Tarjo mendekati tohidin dan memberikan selembar tissue, untuk menyeka keringat dan airmata tohidin dan berucap “Sing sabar ya din…jangan berputus asa”, kata-katanya seperti menguatkan tohidin, tapi tidak lama dia langsung memeluk tohidin dan menangis sambil menggumam “din…din…puisimu itu seperti ungkapan hatiku…pada karo apa sing tak rasakna atine enyong saiki…aku naksir tariceng wis 3 taun…tekan saiki wis arep lulus durung diterima…huk.. huk.. huk..”. Tohidin berusaha tenang dan mencoba menguatkan tarjo salah satu teman dalam organisasi OSIS-nya “Sing sabar ya jo…jangan berputus asa...koe durung terima mungkin durung dikirim karo tariceng...”, MC Tarjo langsung menyahut “lah ko..omongane enyong dibalikna din…?”Udin hanya tersenyum kecil, beberapa menit adegan yang mirip seperti sinetron televisi lokal daerah tegal berlangsung.

Kemudian tohidin melepaskan pelukan tarjo, lalu ia turun dari panggung, acara pun berlanjut dengan peserta berikutnya, sementara teman-teman yang lain mengikuti acara demi acara dan bercanda, atau sekedar menonton pertandingan yang lain, tohidin memilih untuk menyendiri diperpustakaan, sekedar duduk dan melamun padahal kalo lama-lama ngelamun bisa dipotong kalo ayam tapi tohidin bukan ayam tohidin adalah manusia yang punya rasa dan punya hati, jangan samakan dengan pisau belati....nyanyi lagi, beberapa lama dia terdiam, kemudian tohidin mengambil 2 lembar kertas dari sakunya, kemudian tohidin tersenyum dan nampak heran memandang 2 lembar kertas yang tadi ia bacakan isinya, yang sebenarnya kertas itu sama sekali tidak bertuliskan puisi yang tadi ia bacakan dengan gamblang, lantang, sombong, dan penuh panghayatan. Ternyata 2 lembar kertas itu tohidin dapatkan ketika ia melewati gang (Mau disebut gang tikus tapi gang ini lebih kecil dari gang tikus yang sempat saya temui..jadi susah arep nyebute gang apa..)disamping rumah toipah, dan tanpa sengaja tohidin melihat toipah membuang sesuatu dari jendela kamarnya yang bersampingan langsung dengan sebuah gang kecil dimana tohidin lewat, kemudian tohidin memungutnya. Lembar pertama bertuliskan "Panggil aku ipah", dan lembar kedua bergambar salah satu tokoh punakawan yaitu Bagong, tohidin hampir tidak percaya dengan dirinya sendiri tapi, dia tetap percaya pada Tuhan, tak seperti koruptor yang mempersekutukan Tuhan dengan duit, hanya dengan bermodal perasaan cinta dan kekagumaman yang begitu besar tohidin kepada toipah, tohidin seperti sedang kerasukan roh pujangga besar, penyajak ulung, tohidin menjadi seperti penulis bijak bestari yang membacakan karyanya yang belum tersurat dan masih tersirat, seperti sang aulia yang sedang menyabdakan ayat-ayat Tuhan yang jatuh lemas dan tidak ingat lagi apa yang sudah disabdakanya, kini puisi yang diucapkan tohidin pun sudah tidak bisa diingat lagi oleh dirinya sendiri, semuanya hanya menjadi riwayat hati tohidin, ditulis dengan pena cintanya pada lembar perasaanya dan hilang tersimpan dalm kalbunya yang hayat, ada beberapa bait yang masih teringat dan tohidin berusaha terus mengucapkanya :

"Untuk sebuah nama, bintangku
Untuk sebuah nama,bintang…benderangku,

Jika jalan itu ada tunjukanlah padaku
Jika rasa itupun kau rasakan sambutlah aku"


Hingga kegaduhan didepan pintu Perpus menyadarkan tohidin dari lamunanya, tohidin kemudian menoleh dan melihat beberapa teman sekelasnya berteiak-teriak "din...din...kamu menang...kamu menang...", ternyata tohidin benar-benar khusyuk dengan lamunanya sehingga MC yang berteriak-teriak berulang-ulang memanggil nama tohidin pun tidak ia dengarkan, begitu hanyut dia denga perasaan cinta yang dirasakannya, karena itu pun wajar dirasakan oleh setiap manusia, yang lebih cenderung lebih cepat terlena dengan kenikmatan yang berhubungan dengan sesuatu yang bersifat ragawai/kemanusiaan, tapi ketika sedang berhubungan dengan Tuhan mereka tidak merasakan kenikmatan, dan kehanyutan yang sama seperti saat kita berhubungan dengan manusia begitu juga saya (sing nulis),(Pacaran 3 jam kuat...sholat, dzikir 30 menit be wis glasahan...ckckckck...)

Jumat, 08 Oktober 2010

TOHIDIN TOIPAH - EPISODE 2- Pagi Yang Seperti Es Campur Sejuta Rasa



Ditulis oleh Edi Siswoyo
Diunggah oleh Edi Siswoyo

Syahdan…Kocap kacarito… Alkisah, sudah 2 hari 2 malam lewat 3 jam surat cinta tohidin yang kocak, sedikit nakal, nyleneh, membabi buta, mengharu biru, meremukan hati, toipah dan bernafaskan perjuangan berlalu. Pagi itu tohidin terduduk lesu disebuah jembatan dipinggir jalan, tempat biasa tohidin menunggu kendaraan yang lewat untuk ikut ndayak* mobil truck pasir sampai jalan besar menuju kesekolahanya. Nampak kuyu mukanya, entah karena resah tak bisa tidur nyenyak memikirkan nasib surat cintanya, atau karena didera ketakutan yang teramat sangat setelah melakukan hal yang tak biasa dan tak pernah dilakukan tohidin yaitu nyolong ayam’e pak RT, hal yang sama sekali tak ada dalam kurikulum pelajaran akidah & ahlak yang diajarkan disekolahnya (Maklum sekolahnya SMP yayasan islam terbesar), yang jelas pagi itu hanya dapat dikatakan dalam 2 kata “Ora Nggenah”.

Lima belas menit berlalu, terlewati tohidin dengan ketegangan, situasi ini sama dengan situasi yang dialami Sadewa (kisah mahabarata), yang kala itu hampir mati oleh amukan Dewi Ranini karena menolak keinginanya, untuk meruwat Dewi Ranini yang sedang dalam kutukan bentuk Durga-nya(Raksasa Jahat) kembali menjadi Uma yang cantik jelita, setelah Sang Hyang Batara Guru mengetahui keadaan itu Dia langsung meretas, merasuk (Istilah jaman sekarang meng-hack) dalam tubuh sadewa dan akhirnya Dewi Ranini kembali ke wujud aslinya setelah melalui ritual panjang oleh sadewa dan atas keberhasilan Sadewa Dewi Ranini member gelar Sadewa Sang Sudamala (Penghapus kejahatan) karena telah berhasil membuang wujud jahat Dewi Ranini.

Weitss…sabar agan…agan..dan aganwati..aganwati semue…jangan mlongo kaga keruan dan terkesan B.E.T.E dengan keseriusan cerita nyang diatas…,(aye tau agan..dan aganwati…tidak terlalu suka ame nyang gitu2an…cerita wayang dan semacamnya yang hampir punah dan hilang…kurang diminati bocah2 jaman karang…) “Ok…dah ikan hiu…ikan pesut…Lanjuttt….”. Mendadak wajah tohidin yang tadi mengkirut kaya jeruk purut…langsung ceria…satu senyuman kecil tersungging dibibir tohidin yang tidak merah dan pecah-pecah, matanya langsung mencorong kaya lampu petromax pemburu kodok ditengah sawah dimalam gelap, rupa-rupanya bidadari pujaanya toipah bin hardjopranoto sedang melangkah menyongsong dirinya, senyumnya tersipu sambil ditutupi mulutnya malu-malu berjalan dibelakang teman sepermainan dan juga teman satu sekolahnya siapa lagi kalau bukan mak comblang tohidin Neng TarisolMiyIp’marisolNyanyiIsAbelalalaST12’n’cnTabEUdBeiberLoverScolourfix(Nama tariceng diakun fb-nya)…atau biasa dipanggil ceng..ceng tariceng…halah…halah…, setelah agak dekat dengan tohidin kemudian toipah membisikan sesuatu ke telinga tariceng beberapa detik kemudian tariceng menggeleng-gelengkan kepalanya entah apa yang dibisikan toipah pada tariceng, yang jelas tidak lama tariceng mendorong toipah sambil berkata”wis manalah dinekena dewek…”(Penulis : “Sudah sanalah berikan sendiri”). Tohidin yang pura-pura tidak melihat kejadian itu mencoba mengalihkan kegugupanya dengan mengambil buku cetak dari dalam tasnya dan berpura-pura membacanya (tidak sadar bukunya terbalik), kemudian toipah memberikan sebuah amplop bergambar bunga warna-warni yang ia sembunyikan di dalam buku catatanya ”mas idin…” begitulah panggilan toipah dengan lembut seraya mengulum senyum dan sedikit menahan tawa (melihat si tohidin menunjukan salah satu talentanya yang tersembunyi yaitu membaca buku dengan terbalik)lalu sambil menyodorkan amplop itu, kemudian tohidin yang pura-pura cuek menoleh sambil eksien kaget, rada gugup, sambil pasang muka co’ol dia menyahutnya”Oh iya dik…terima kasih ya…”, dan toipah langsung berlari kembali menuju tariceng, tak lama kemudian tumpangan mereka datang sebuah mobil dolak (Penulis : sejenis mogil bak L300)pengangkut bawang merah.

Tohidin kini tinggal sendiri, dengan perasaan bahagia bercampur tanda tanya besar karena amplop yang dipakai toipah untuk membalas suratnya sama dengan yang ia pakai pada surat pertama yang diberikan untuk toipah, apakah toipah sedang melakukan penghematan anggaran belanjanya dengan tidak menggunakan amplop baru, seperti Negara kita yang lebih suka memakai barang-barang bekas termasuk sarana dan prasarana transportasi dengan armada – armada bekas dan sudah tua, yang menjadi salah satu faktor banyak terjadinya kecelakaan transportasi…jadi mudah untuk dikambing hitamkan dengan cukup memberikan alasan “karena sarananya sudah tua dan tidak ada faktor tunggal pada setiap kecelakaan…”, padahal hanya ada satu departemen di Negara kita yang mengurusi masalah transportasi, atau kalau sudah kepepet tinggal bilang “kan itu sudah musibah…sekali lagi musibah…”, “Pagi ini benar – benar seperti es campur sejuta rasa” dalam benaknya tohidin bergumam.

Tohidin dengan berjuta perasaan campur aduk, mengocok-ocok, menguplek-uplek, mengodol-ngodol, mengurut-ngurut, kepalanya berangkat menuju kesekolahanya, mengikuti semua kegiatan yang diselelnggarakan sekolahnya dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun Kemerdekaan, kebetulan saat itu tohidin yang piawai menulis puisi dan menggubah syair dan sajak, ikut andil mewakili kelasnya dalam lomba Baca&Tulis Puisi Bebas dalam rangka HUT kemerdekaan, sebuah puisi yang berjudul “Sajak Untuk Sebuah Nama”telah tohidin tulis mendapat giliran untuk dibacakan didepan para juri yang terdiri dari dewan guru. Sambil bersiap-bersiap menunggu namanya dipanggil dia membuka tasnya dan mengambil amplop surat balasan dari pujaan hatinya toipah dengan jantung dag…dig…dug…dia mengambil dan membuka amplop itu, ternyata eng…ing…eng…creng…creng..creng…mata tohidin terbelalak, keringat dingin mengucur deras dari tubuhnya, nafasnya tidak beraturan, mendadak tohidin seperti terkena gelombong tsunami kepuyengan…”Ya Alloh…jabang bayi…primen kyeh maksude…?” (Penulis : Ya Alloh Bagaimana ini maksudnya..) ternyata surat yang ditulis tohidin dengan sejuta perasaan, susah payah dan melewati fase-fase sulit puasa mutih 3 hari 3 malam, dan di jampe harupat, pujamantera, ajian pengasihan warisan nenek moyangnya dikembalikan lagi oleh toipah, belum habis tohidin menerjemahkan dan mendefinisikan rasa bingungnya dari Soundfox a.k.a sompok bin toa (Penulis : Pengeras Suara) MC dengan lantang memanggil nama tohidin “Hadirin sekalian kita sambit…maaf …kita sambutpun…inilah dia peserta dengan nomor 09…mewakili kelas 3.A ananda
Tohidiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinnnnnnnn……yang akan membacakan puisi Sajak untuk sebuah Nama”



BERSAMBUNG...

*ndayak :adalah istilah menumpang mobil karena diwilayah-wilayah tertentu didaerah belum ada sarana transportasi yang legal beroperasi istilah ini biasanya digunakan oleh anak-anak sekolah didaerah pantura Tegal,Cirebon,Brebes dan daerah Purwokerto.

Rabu, 06 Oktober 2010

TOHIDIN TOIPAH - EPISODE 1 : Surat Cinta Tohidin Di Malam 17 - an




TOHIDIN TOIPAH
Episode 1 Surat Cinta Tohidin dimalam 17-an
Ditulis Oleh Edi Siswoyo
Diunggah Oleh Edi Siswoyo



Kepada Ytc (yang tercinta ya...bukan yang tercurut..)
Adinda Toipah
di Villa Kerinduan


Assalamualaikum, wr, wb.

Selamat malam, atau selamat pagi, atau selamat siang, maaf adinda toipah... mas idin bingung mau nulis "selamat malam" takut surat ini sampainya "pagi", mau nulis "selamat pagi" takut surat ini sampainya siang...bingung yach dik...hehehehe...kaya koruptor yang malam ini sedang kebingungan dan bertanya pada istrinya "mah...dana kesehatan untuk orang miskin mau dihe'eh berapa persen (%) yah...saking bingungnya akhirnya si miskin cuma dapat 0.000099999% (amplopnya tok ra ene isine...isine janjinya tok...)". Mungkin surat iki tekone rodho telat masalahnya pas kemarin aku titipin tariceng koncomu ngomongnya dia mau ke Bu bidan dulu mau konsultasi, ngecek dia masih perawan atau tidak (Maaf mas manggil si tarisol dengan tariceng soalnya mas geli namanya mirip cairan pembersih lantai, dan setelah mas cek'n'ricek ternyata si tarisol itu doyan nginceng makanya mas panggil "tariceng":tarisol tukang nginceng). Soalnya dia sudah tidak yakin lagi dengan keperawananya setelah kesrempet Mo.Ge (Motor Gede)Made in Jepun pas mau nonton layar tancep kemarin...kasihan ya dik...kasihan...kasihan...kasihan...

Dik toipah yang cantik itik-itik...maaf mas idin mungkin terlalu nekat dan terkesan tidak sopan karena menulis surat ini, tapi jare mbahku "kalau dulu para pejuang kemerdekaan tidak nekat berjuang melawan Londo karo jepang dengan bambu runcing, mungkin sampai sekarang kita masih dijajah oleh mereka", dan kalau kita terus-terus sopan dengan wong londo dan si sipit jepang mungkin saat ini mas dan semua orang indonesia masih bekerja jadi romusa atau pekerja rodi membuat bendungan air lendir si sipit jepang dan keringete si londo sungguh terlalu ya dik...bersyukurlah sampai pada malam 17 Agustus tahun ini kita sudah hidup bebas tanpa jajahan dan memperingati kemerdekaan fisik negara kita tercinta,SELAMAT HUT RI YANG KE berapa ya dik...mas lupa yang keberapa Pokoke MERDEKAAAAAAA....

Semuanya merdeka dik tapi bathin mas merasa belum merdeka, pasalnya semenjak bertemu dik toipah pas lagi nonton ndangdutan kemarin, senyum dik toipah seperti segerombolan serdadu londo yang terus membombardir fikiran mas..., pandangan mata di toipah malam itu kayak granat yang pemicunya sudah dilepas dan siap meledak luluh lantahkan hati mas..., sungguh pintar kau dik...mengocok-ngocok, mengacak-ngacak, mengicik-ngicik,anunya...ehhh..perasaanya mas idin..., mas sudah mengijak ranjau cinta yang dik toipah pasang...tiap mas memandang dik toipah mas tidak bisa beranjak, seandainya hati dan mata mas beranjak lungo mlayu pasti mas kan hancur berkeping-keping.

tolonglah dik mas seperti serdadu pejuang yang ketinggalan pasukan gerilyanya..mas kebingungan dik...montang-manting...clangak-clinguk.. ngalor ngidul... isine londo kabeh mas bener-bener dijajah oleh perasaan yang mas rasakan saat ini.

Setelah salam hangat yang mas titipkan sama tariceng tidak bertepuk sebelah tangan, dan mendapat balasan yang hangat pula dari dik toipah...mas berani angkat bendera putih tanda situasi sudah damai, mungkin ini baru awal ya dik... tapi mas seneng kelawan bahagia banget. Dari awal mas ketemu dik toipah mas merasakan sesuatu yang tidak biasa pada hati mas dan terasa mak...kleserrrr...kleserrrr...kleserrrr...pada bagian tubuh mas yang lain, semoga dik toipah juga merasakanya..kleserrrr...kleserrrrnya itu loh dik...? dan berawal semua itu mas yakin dan mantappppp...untuk mengatakan bahwa mas...mas...ehmmm...aaaa...mas...mas...sang...saaaannngg....sangat sayang dan mencintai dik toipah ..dengan sepenuh hati mas...dik toipah gelem ra pacaran ambe mas idin...?

Kini mas sudah tenang sudah mengungkapkan semuanya. Tadi pagi pas mas mau buang hajat di kali..tak sengaja lewat depan rumahmu...(halah..halah..koyo lagu tenda biru teh dessy ratnasary yah dik...) mas lihat dik toipah lagi nyiram bunga, wajah dik toipah tidak kalah indahnya dengan bunga-bunga didepan rumah dik toipah, mas sangat tersepona..eh..terpesona...melihat kecantikan dik toipah...mas jadi semakin mules waktu itu.

Kira-kira demikian saja ungkapan cinta dari mas idin...jika dik toipah merasakan mules yang sama...eh...maksudnya merasakan perasaan yang sama sudilah kiranya dik toipah membalas surat ini..?dititipin saja ya dik ke si tariceng sekalian tanyain kedia gimana hasil tesnya...masih perawan po ga? soale koncoku si poal bisa gagal ndeketin dia kalau dia sudah bocor...soalnya paling susah ditambal kalau yang itunya sudah bocor...kalau politikus memang otaknya pada bocor, tapi mereka punya bengkel las khusus untuk nge-las otak mereka..., mas idin berharap banget mendapatkan jawaban yang memuaskan, sudah 2 minggu ini mas nasi aking dan rasanya ra enak banget...koyo ambune awake si poal..., seandainya jawaban dik toipah memuaskan mungkin rasa nasi aking akan terasa seperti burger McDonald...kan katanya kalau sudah cinta tembelek pun rasa coklat...hehehehe...

Cukup sekian dan terima kasih, salam untuk adikmu jendol...kalau,angon wedus ya angon wedu tapi jangan kaya wedus sukanya srudak...sruduk...anunya mas pernah disruduk sama adikmu...sampai ketemu besok diwarung mbok darmi yah tempat kita biasa nunggu mobil ya dik toipah yang cantik... mas idin sayang banget ma dik toipah.

dari yang selalu mencintaimu,
TOHIDIN BENDOL KUSUMA WIDJAJA

Senin, 04 Oktober 2010

"Surat Terbuka Untuk Hujan"


Hujan dibelakang langkahku...
Menghapus Jejaku...
Sebentar lagi bayangpun akan menghilangkanku
Dari jagad...

Lagu bumi tak memberiku suara
Pagi tak membagiku cerita
Siang tak memberiku nada
Malam tak lagi menjagaku...

Hujan ambilah kepedihanku...
Gantilah dengan sedikit kerinduan
Agar kau dan aku hidup dengan jantung keabadian
Kau asyik riang walau menghilangkan benderang

Aku tak dapat membicarakan apa yang dikatakan dari hatiku, tapi airmata deras dari awan hatiku mewakilinya
Kejadian-kejadian yang telah berlalu,dianggap mimpi belaka,dan semua penyelamatanku tak berarti, dianggap percuma.



Hujan...,kini aku abadi bersama dirimu
Kau usaikan kesedihanku
Ceritamu jatuh dari langit
Aku mengigil karena pelukanmu
Tapi kini tak terukur kebahagianku

Kini melimpah kidungmu...
Meremah-remah, tercecer dan tak mampu untuk bersyukur dari tiap-tiapnya yang jatuh
Karena itulah begitu deras kau jatuh dari mata langit
Dan begitu deraslah bibirku bergumam syukur...syukur...syukur...

Walau ada meja pesta difikiran manusia aku berjanji aku tak akan pernah meninggalkanmu, untukmu
Walau teratai itu tak lagi tumbuh diatas hatiku, kini mawar telah kau semai untuku
Teratai telah memenjarakanku dalam derita dan kini kau bagai maut yang membebaskanku
Aku bersedih kesombonganya tak lagi menjadi nafasku, namun kini aku berbahagia karena mati dengan kebebasanmu

Meski nafasnya tak lagi memenuhi rongga dadaku
Kau melunakan seluruh jiwaku dengan suaramu
Meski pelukan kebohonganya tak lagi menenangkanku
kau ucapkan kaidah cinta abadi dan memeluku penuh damba

Hujan kini aku bahagia denganmu...

Akan kunyanyikan terus lagu-lagu harapan
Dengan iringan kecupan-kecupan sayang
Kekhawatiran ini sudah surut, dan aku akan berlutut menjamah hadiratNya
Memanjatkan do'a agar keluh kesah kita kecil diatasNya

Kebenaran cinta itu perkasa
Kelelahan akan menimpa
Namun tiada pernah aku akan binasa.







CGK, 03/10/2010

Selasa, 28 September 2010

"Cerita Pagi Dari Secangkir Kopi"

"Prakata"



Purba sekali pagi ini "Tak ada yang sama...", Maukah kau terima lidahku yang latah dengan rasa dan "Jangan berkata bohong..." dari mana kita mulai berfikir...Bohong...Bohong...Bohong...Mulai berkata "DUSTA...AYO...TA...TAMBAH LAMA..AYU..MA...MAKIN DOSA...AYO...SA...SAMPAH JIWA...AYO...WA..WARNA HITAM...AYO...TAM...TAMBAH KELAM...AYO...LAM...LAMA-LAMA AYO..MA...MAKIN ENAK..AYO..NAK...NAKAL JUGA...AYO...GA...GA KERASA...AYO...SA...SAYANG-SAYANG...AYO...YANG...YANG DUSTA MASUK NERAKA..AAA..AAA..." Awal berfikir dengan dusta, dusta dari apa yang ada dari atas meja, baiklah aku akan bertanya "Siapa namamu...?",Dia manjawab "Akulah nikmatmu pagi ini...".

Kau gila berjelaga sendiri pagi ini, menyemai pada revolusi yang belum terjadi.

Tapi pagi aku akan bersyukur dan jatuh cinta pada secangkir kopi, aku akan bergegas keluar mencumbu bibir pagi yang masih perawan, dan berteriak "haaaiiiiii....Manusia...Manusia...Manusia...Siapa namamu?Presiden...Menteri...Dewan Rakyat...Hakim yang agung dan tak agung...apa saja nama kalian...salam hangat khususon untuk tikus-tikus berdasi dimanapun engkau bersarang dan berkandang..." "Bagaimana dengan malam kalian, pasti tak sama dengan malamku...?" Tak susah payah menjawab...berikan jawabanya untuk kalian masing-masing saja...

Jika sudah begini "Marilah kita sama-sama duduk disini...dimeja saya ini..lapuk...habis dimakan rayap...tapi tak pernah berhenti tersenyum dan pongah pada pagi..." masih kuat untuk menopang beberapa cangkir kopi, sepuntung rokok, asbak, dan sepiring kue pancong, apalagi jangan bingung "ini mejaku mana mejamu...ini nikmatku...mana nikmatmu...ini syukurku...mana syukurmu...", meja kalian dirumah yang pagus terbuat dari marmer, granit, kayu mulia, tapi kau tak pernah bersyukur pada apa yang tersaji diatasnya setiap pagi.

Duduklah disini Bapak-bapaku yang kaya dan mulia, kita join kopi dan join rokok...dan untuk hiburanya pagi ini akan saya bacakan sedikit sajak dengan judul"Puisi untuk para koruptor..." jika ada yang tak suka dengan hiburanya, kita main bareng-bareng saja, kebetulan main golf saya tidak hobi, main poker saya tidak bisa, main wanita kalian pasti suka..tapi tidak semua..., bagaimana jika kita memainkan permainan baru temuan saya...hasil penelitian saya edi siswoyo profesor kupret yang saya beri nama permainan "Pengakuan Dosa"

Begini cara bermainya :

1. Kita semua akan membeli sepiring sarapan pagi
2. Seperti anak kecil disuruh beli bumbu oleh ibunya diwarung dia akan bernyanyi untuk
mengingat-ingat "kunyitku, bawang merah...Kecambah kecil, terasi" tanpa henti tapi kita
rubah nyanyianya"duitku darimana...apakah hasil korupsi"
3. Lalu belilah sarapan pagi
4. Setelah kita sudah berhasil membeli sarapan pagi jangan terburu untuk memakanya (karena
bukan siapa yang lebih cepat meghabiskan sarapan pagi yang akan menjadi pemenangnya)
5. Sebelum makan kita akan didoakan oleh para janda-janda pensiunan/veteran yang menderita,
pencuri 2bh kapas randu yang dihukum, janda-janda & anak-anak korban penculikan orang,
korban salah tangkap yang dianiaya sampai cacat, yatim piatu, pemulung, pengemis, dan
semua kaum duafa, yang hidupnya hancur oleh para jahanam-jahanam koruptor.

Begini doanya :
"Ya Allah...Mencretlah seumur hidup...Mencretlah seumur
hidup..sengsaralah..matilah...orang yang pagi akan memakan sarapan pagi dari hasil
korupsi..matilah...matilah..matilah.."
6. Siapa yang akan mengaku dosa terlebih dahulu dialah PEMENANGNYA.


Rasanya :

* Berfikir pun dimulai dari "bagaimana cara untuk membohongi diri sendiri...?"
* Bersyukurlah dengan apa yang terjadi setelah kita terbangun dipagi hari, rasakan nafas
kita yang masih berhembus, beranjak dari kamar dan rasakan matahari milik Sang Maha itu
masih terasa hangat sinarnya yang jatuh dikulit, rasakan semua indera kita masih
berfungsi untuk siap menaklukan hari ini.
* Satu lagi "Jangan korupsi yah....."

AKHIR SEBUAH CERITA (Part I)


Setelah hujan hilang "kaulah manusia-manusia yang menamakan dirimu sebutir pasir..."
Begitu kecil, tak pasti, hilang dalam isapan ombak, dan hembusan angin...
Tapi kau senantiasa berdiri menutur dan memberikan peribahasa pada muka bumi...
Jangan katakan kau tak berarti karena walau tanpa irama dan menggigil...
Kau adalah pralambang keabadian yang tak bosan berserapah pada diri...
Untuk tak menyerah dan menemukan mimpi yang kau kejar sampai waktu mati...

Pada dirimu dan diriku ada jiwa tanpa sayap yang menjadi tanggungan
Pada dirimu aku tak akan menitipkan lautan, biar saja hilang
Pada diriku sejumput pasir itu akan aku abaikan dalam angan
Pada yang Maha Menghancurkan saja kita titipkan semuanya, agar semua jejak kehancuran itu terhapus dalam satu kata "Musnah"

Akhir sebuah cerita...
Mungkin, saat ku tutup mataku dengan tanganku, kututup dan kubuka lagi...kututup dan kubuka lagi
Berharap, saat kubuka kudapat melihatmu lagi dirimu datang dan mengucapkan kata pemujaan lagi
Kubuka dan kututup lagi...kubuka dan tak pernah ada apa-apa selain jalan-jalan sepi
Kini aku semakin tak yakin kau akan hadir diujung jalan itu dengan senyumanmu setitik


Hidup ini sudah tanpa cerita...
Kita sudah sejati dalam apa yang sudah terlahir dan yang masih tersirat
Keparat apa yang menyudahi tidurmu, pagi apa yang kejam mengakhiri mimpimu
Sedang pada hatimu akan akan terlelap dan membagi bayangku-bayangmu

Seluruhnya tenggelam...kau menggetarkan semuanya dan pergi
Semuanya musnah...kau tunjukan keindahan dan kau sembunyikan lagi
Semuanya kabut...tak terbersit lagu yang lebih manis daripada madu
Semuanya hayat...samudra tanpa batas dalam dan luasnya pun hatiku

Sore ini kau berkata :

"Aku mohon kau mengerti perasaan itu hanya ada padamu...tak ada padaku"
"Menggumamlah tentang kerelaan,karena hatiku tak menyampaikan jawaban yang kau harapkan..."
"Kau memutuskan perasaanmu atas hatiku...aku pun berhak memutuskan apa yang diucapkan oleh hatiku..."
"Tataplah,lihatlah aku disini pun tak berdaya...dengan kehancuranmu..."
"Sadarilah kesalahan dan airmata tak pernah menyembuhkan hanya kepedihan semata

Sampai kapan kau akan meratapi, kata-kata itu tak kan pernah kau miliki
Jiwamu samudra tanpa batas dan aku hanya sebutir pasir belaka menghambur ditepi pantai sepi
Berfikirlah tentang jagad tempat kakimu melangkah yang masih sangat luas tanpa tepi..
Sedangkan aku hanya akan berpijak disini,khawatir,beku,sendiri dan sepi..."


------------------------------------BERSAMBUNG-------------------------------------------------

PERPISAHAN


Perpisahan adalah pralambang kehidupan
Tuturan sunah qodho dan qodhar
Masa Perpisahan adalah penghargaan dari masa pertemuan
Tuntunan bahwa masa pertemuan yang tak berarti, jadi sangat berarti

Aku seperti berdiri di depan kaca jendela
Melaluinya aku melihat kebenaran yang indah
tetapi aku dibatasinya pula

Gelombang laut sama dengan gelombang perasaanku
Debur laut sama dengan gemuruh di dadaku
Desir angin laut tak beda dengan bisikan gundahku
Lengkaplah semua deritaku
Bak pusaka yang menghujam dan meniadakanku

Perpisahan memberikan keputus-asaan
Semuanya menjadi tanggungan tanpa kata dalam tangisan
Sedangkan ragaku terbawa arus samudra
Namun jiwaku tetap menyair dan berfatwa pada pantai hatinya

Sekarang kau dan aku benar-benar terpilah-pilah dan memisah-misah
Karena derita laut untukku dan dukalara pantai itu untukmu saja
Penderitaanku hanyut bersama gelombangnya
Dan kesepianmu menghambur bersama pasirnya

Aku serigala yang suaranya hilang digulung malam
Bak Debu liar yang mengharap kemuliaan
Malam didahan dan dedaunan, siang mengalun acak tak tentu arah
Segala ungkapan keputusasaan terucap
Saat angin perpisahan itu membadai diatas hati kita

Tapi sekarang saatnya bangun
Karena rasa cinta itupun pralambang dari diriku
Saatnya mengusap air mata
Karena kebesaranmu adalah landasan hatiku

Kita tak akan bisa menghalangi matahari yang sedang menyingsing sesuai kodrat-Nya
Apa yang kita satukan akan menyatu dan terpisah jua karena-Nya
Entah akan berbuah apa tapi, benih cinta yang kita tak akan tumbuh selainya
Walaupun mati kita menyatu dalam kesatuan lahan cinta yang sama

Aku pun akan hadir disitu
Karena kau dan aku adalah hasrat yang membara, mengembara dalam dalam kabut
Aku jadi kabut kaupun sama kita akan saling mencari dan lahir dalam mimpi baru

Karena sesungguhnya kita tidak jauh terpisah
Kau berada ditangan Tuhan yang sebelah kanan
dan aku berada ditangan-Nya yang sebelah kiri
Rembulan tak lebih bercahaya daripada kita saat pertemuan nanti


Wahai kau orang asing yang lewat didepan pintu hatiku
Kau dan aku adalah hakikat dan pralambang dariku
Kau yang menggetarkan bibir hayatku yang bisu
Hingga satu kata cinta itu hadir dalam kelu
Selanjutnya kita saling menyabda dalam segala beku

Saling hanyut bertahun-tahun
Mendenyutkan kenangan masa lalu dan mendambakan masa depan
Karena perpisahan telah membenamkan kita dalam ajal
Dan esok kita akan memburu kelahiran kita dalam pertemuan.

KALA ITU

Angin berdesir kala itu Aku tahu kau suka angin itu Semilir menerpa jilbab panjangmu itu Senyuman kecilmu tanda kau suka itu Aku ingin berta...