Rabu, 15 Desember 2010

7 Hari 7 Mimpi III : Syuro, hatiku pada Surau-Mu

Ditulis oleh Edi Siswoyo
Diunggah oleh Edi Siswoyo


Syuro, hatiku pada Surau-Mu


Malam tanggal satu syuro
Malam, tanggalkan taring kesombonganmu
Malam, tanggalkan jubah keangkuhanmu
Malam, tinggalkan tanggal tanggalkaaaann…kebodohanmu

Kau nan takkabur terkabur bak kapur-kapur
Sabdamu mengembara, ealah…mengelepar-gelepar
Hari-hari bisu, lalu rindang pujianmu mengawang
Lalu, kekagumanmu pada-Nya tak dapat kau elah-elahkan

Mari kita berkilah
Untuk hijriyah lalu, yang sudah jadi kemarin
Untuk kesedihan lalu, yang sudah jadi air mata kemarin
Mari kita berkilah, mengilah-ilah matinya pekertimu

Malam satu syuro, pada selincak sesaji
Aku bersaksi demi syahadat mulia pada Ahmad dan Gusti Allah
Setumpung keyakinan kami, aku menyembah pada kemuliaan-Mu
Sedang Kau berada di hati kami, menjadi satu dzikir dan satu-Mu

Kekasih…Bila Kau akan mengakhiri ucapanku
Bukalah mata makrifat dan tutuplah mata nyalang ini
Kau…Yang Hayat guna-gunalah kesepi senyapanan kalbu
Karena, nyanyi-Mu yang tanpa suaralah yang mengusir sedihku

Telah selesai ku ikuti hati yang sebatang kara
Telah kuantar pulang jiwa yang mengembara
Telah kubujuk nahkoda, untuk menyucikan halauan gelapnya
Telah kuisi mangkuk si pengemis dengan anggur-Mu, untuk penawar kelaparanya

Kini seonggok hati, sebongkah jiwa
Telah menempuh jalanya sendiri
Kini nahkoda yang bingung, dan pengemis yang lapar
Telah mengembangkan layar dan senyum tak sepi

Aku…aku…memilih jalan ku sendiri
Menyusuri...Syuro, hatiku pada Surau-Mu
Bersama parau suaraku…
Walau…walau…syuro parau suaraku, surau-Mu sepi…

Sabtu, 11 Desember 2010

7 Hari 7 Mimpi_Mimpi II : Dzikir Cinta untuk-Mu

Ditulis oleh Edi Siswoyo
Diunggah oleh Edi Siswoyo

Laailla haillah, Dzikir Cinta Untuk-Mu
Dzikir rindu, penyingkir nafsu
Sembahyang cinta, pengikis angkara
Tahajud raga, cipta, rasa, jiwa dan raga

Semesta isi bumi bergerak mengarak-arak
Meminum arak pada dusta, nista kelalaianmu
Sap satu dua tiga langit membuka bak menyibak
Tersibak menyimak manusia-manusia dan rindumu

Agama dilukis, dinyanyikan, ditarikan, jadi pupuk iman
Imanlah penghalau si tuli dari ketulianya akan Tuhan
Imanlah penarik lidah si bisu dari kebisuanya akan Asma-Nya
Imanlah lentera si buta menerangkan kebutaanya akan Tuhan

Rekadaya dunia menipu indra
Rindu-rindu kecil akan nafsu
Menjadi bencana besar pada dirimu dan dunia
Jatuh korban beribu nyawa menamparmu

Jika suatu saat kau faham sampaikanlah ini
Tuhan hanya menyatu pada jiwa yang memberontak dengan tanda tanya besarnya
Jiwa yang sombong, tak akan mencicipi nikmatnya Manunggaling Kawulo Gusti
Sukma yang angkara, tak akan mengerti tertib dalam kerajaan-Nya

Sembah Cipta, sembah rasa, sembah jiwa dan sembah raga
Sembadah Tuhan, sembah sembahyang cinta dan dzikir rindu
Tabah menambah, menimba, hamba buruk dimata-Mu
Ilmu Cipta, ilmu rasa, ilmu jiwa, dan ilmu raga

Laa illahaillah, Dzikir Cintaku untuk-Mu

Jumat, 10 Desember 2010

Ni Kembang Mayang

Ni kembang mayang kinocap, tresno hanyacap jiwo
Woh-wohane roso, owah-owahaneng manungso
Duk gumluduk neng dodo-mu dodo-ku kangen-mu
Dek gumledek neng wantorone ati-ku

Ni kembang mayang
Janji neng pundhakmu, tansah tumungkulo janjimu
Jan...nadyan pundhakmu mumbul-mumbul sasongaran
Tansah ngaran arang-arang, moro marang atimu
Sasongaranmu ming gang gung sak paran-paran

Lir kadyo punika kang mas
Mas-masane, sak anane, sak remuke
Lir kumoyo gemuyumu tumrapmu nekomu angas neng kang mas
Nekah tumekah tekomu sak remuke

Surak tumabrak mawurahan
Elalah..tekomu tan kawoco netro
Aku nunut nut wurimu, nedhak nindhak ngaten
Roncengke loroku kang rincing ringsik pangrungon

Mboten enten pamanggih kang tinumpas runtiku
Nadyan aku wis ngocap sejatiku, atiku tan nrimo
Sun pamit mowo loroku, sun indhit tan tangismu
Kilo mangolo cokro, samudroriwih lir koyo remukeng atiku

Munggal malang sliramu Ni kembang mayang
Lir sari katresnanku tan moh cumekel astaneng atimu
Katresnanku sedo ningglang gumuruh samudro
Mukso tan mekso, dep kasidep lir halimuneng ombak kang tinumbak

Ni Kembang Mayang, jingglang wulan iku sinoroteng netramu
Mripih mawurahke bet runtiku iku sumilireng bayumu
Tumindhaku midak-midak kanthi jejeg iku tapakeng sitimu
Woohh..ejowantahke, aku tan biso urip tanpo sedyamu

CINTA DUNIA MAYA (Katresnan Tanpo Tondho)

Sliromu tansah narendro nadian kalingan petheng
Tan wusing wujud lan pengadegmu, tansah tak mat-mat'ke
Wingit kathonmu, tanpo doyo sajroning wingit'e
Rum wangi tumapasmu, tiwikromo petheng...

Ampuro, sliromu tansah maparaken luh samar-samar kersomu
Duuu...Kawulo tan saparing ngratrining wingitmu
Ngawutake netro pethengmu, tan nyingkur nadian mung go'awake dewek
Wujudmu petheng dedhet, lir koyo to samar'e pemujimu

Dumadhineng athi-mu, nonggak tinunggak
Kalyan, Ginambar sak jroning pangimpenku
Mih tak buka, aku sing tansah tan ngoco neng petheng-mu
Mih tak tutup, sak lawas'e tresnomu tansah nyoto

Ujar-ujarmu sang soyo wingit, sunika tansah tumapas sumbarmu
Narendradimu...Diageng, lan wicaksonomu tan kawoco sonsong pakertimu
Neng sliromu sak kliwatan netro, rekodoyo jiwo, kalingan waspo lan wektu
Lir purasun samudraning tresnomu, podo tibo, tinibho waspomu

Tresno samar'eng dunyo, katresnan tanpo tondho
Tresno tan cindero, tresno rekodoyo indriyo, mung roso
Tresno samar'eng dunyo, wuyung, gumuyung samar
Guyu'mu, lahak hak-hak'eng samar, anget, angetabing samar

Kalian wuyung kang tumrap alungguh sajroning wengi
Kalian wuyung kang samar, sasongaran kalingan kelir'eng wengiku lan wengimu
Sliromu tansah dadi pangewoewane loroku
Sliromu kang nggregethi nadian ngalingi pangrungonku

Tan netro bathinmu lan tan krungu rosomu
Nadian tresno iki mang mangun tah risik samar'eng dunyo
Nadian wuyung iki lir gunung hanyacap acapmu
Neng maksih tumrap gumludhug katresnanku jroning jiwo

Tresno samar'eng dunyo, katresnan tanpo tondho
Tresno tan cindero, tresno rekodoyo indriyo, mung roso
Tresno samar'eng dunyo, wuyung, gumuyung samarmu
Guyu'mu, lahak hak-hak'eng samar, anget, rumangkul samarmu

Byar padhang ayuneng kalbumu, jroning layang, jroning ujar, lan jroning ati-mu...
Wenten gumludhug nyacap samarmu, wenten pamuji pangusaping samarmu
Tresno samar'eng dunyo, tresno tanpo tondo
Tresno tan cindero, tresno rekodoyo indriyo, mung roso

Mahas padhang yingglang tresnomu diajengku
Udan iki sakliwatan diajeng, tan benthen wangwungmu lan wangwungku
Ureg mangreg iki saklebatan diajeng, tan benthen sinareng bintangmu lan kuminthang-ku
Neng sak kilan adohmu, aku wenten ati-mu, sliramu wenten atiku

Tresno samar'eng dunyo, katresnan tanpo tondho

Senin, 06 Desember 2010

Menjelang sore di Istora


Beribu lilin menyala...
Menjelang sore di Istora

Di selasar istora
Dua mata kami saling memandang
Pada engkau rintik hujan nan membercak di kursi berkode 45
Enggan jatuh, seperti tak puas walau sudah membasuh basahkanya

Diselasar istora, dua lapan november noceng
Berpuluh ribu lilin menyala dari pagi hingga siang
Diantara hujan deras, kilat menjilat, dan kumitir angin
Berpuluh ribu lilin harapan terus menyala

Berharap setelah hujan reda
Berdoa sabar tak reda
Berpasrah pada undian nasib lalu menggantung kaitkan harapan yang seupil
Pada secarik kertas ujian tertulis calon pegawai negeri sipil

Yah semoga kali ini bisa masuk..?
Doa-doa dan harapan itu keluar dari setiap mulut dan ada pada setiap hati
Semoga masih ada pelangi setelah hujan nanti
Semoga pohon kesabaran akan berbuah nanti

Terduduk lesu mba sita, dan siti, memandang checklist daftar ujian
Terdampar haru mas haryo dan si karyo,meremah rambut, memagut janggut
Meski tak yakin tapi ku tau pasti....
Pertanyaan kapan? bak kawat berduri...

Kapan kami kerja...?
Kapan kami berkarya...?
Kapan kami dapat, balas budi orang tua...?
Kapan...Kapan..Kapan...kami sudah tidak kuliah...kami mau kerja...?

Berkatalah seorang penjual kopi merangkap tukang sapu, di istora
Nak yakinlah pada harapan-mu...Nak berjanjilah demi titel-mu...
Aku pun pernah bosan, Aku pun pernah muak...
Tapi aku yakin pada Tuhan, Juga aku yakin pada harapan

Bahwasanya...Sesungguhnya
Dia hanya Dia..Yang Maha Tahu
Dia hanya Dia..Yang Maha Mengerti
Apa yang terbaik bagimu...

Meski hari berat masih panjang
Walau waktu yang merisaukan...masih membentang
Bersumpahlah...gelar sarjana-mu tak akan engkau gadaikan pada keputus asaan
Bersumpahlah...Strata satu, dua-mu tak kan terus kau simpan dilemari kemalasan

Percayalah...Negeri ini semakin sibuk
Sedang sibuk berpura-pura dan berbasa-basi
Sedang berbenah genah ini dan itu
Jadi yakinlah Negeri ini butuh para ahli dan pengotak-atik

Untuk mengurus dan mendandani wajah pertiwi
Yang semakin carut marut semrawut
Untuk menyisir dan mengayak isi Negeri
Yang semakin dipenuhi coro-coro, dan curut

Dan selalu ingatlah Ibu dan Bapakmu
Bahagia jika anaknya bisa mencekik leher keputusasaan
Berani menampar memukul keculasan dan kemalasan
Berdirilah berkaca dan bergeraklah, melebihi mereka yang selalu tersenyum dari keterbatasanya

***
Sayang-sayang sudah susah payah kuliah lama-lama masa mau nyerah, ayo bangun putra-putri Negeri, bangun Negeri, jangan pedulikan para penjilat, biarkanlah Allah saja yang mengutuk dan menghukum, mereka para kumpeni dari negeri sendiri, yang membuat semakin tambah susah mencari pekerjaan selepas lulus kuliah.



GANYANG GAYUS....!!!!!!!!!!

Jumat, 03 Desember 2010

CINTA DUNIA MAYA

Wahai kau yang agung dibalik kegelapan
Tak penting sosokmu pun wujudmu yang sedang kupelajari
Kau nan nampak keramat, tak berdaya dengan keghaibanmu
Wahai kau yang wibawa, tiwikrama kegelapan

Maaf, kau belum menerangkan maksud yang belum jelas
Aku pun tak mampu memaknai ghaibmu
Kau yang nampak pekat, tak terungkap bahkan untuk diriku sendiri saja
Wujudmu petheng dedhet, seperti maya harapanmu

Kesungguhan hatimu tegak menonggak
Pada di hadapan pintu dunia mimpiku
Jika kubuka, tak mungkin ku berkaca pada gelapmu
Jika kututup, selamanya cinta ini tetap tak nyata

Kata-katamu semakin aneh, aku tak mampu menangkap artinya
Kau bersahaja...Mulia, dan bijaksana seandainya mampu kufahami sedikit kearifanmu
Tapi kau hanya sekilas pandang, sekelebat kalbu, dan tersembunyi ruang dan waktu
Meski kau dan aku saling terpukau, saling jatuh, tapi ini ajaib dan gaib

Cinta dunia maya, cinta tanpa tanda
Cinta tanpa cindera, Cinta hanya indera, hanya rasa
Cinta dunia maya, rindu, kecupan maya
Senyum, keriangan maya, hangat, pelukan maya

Pada kerinduan yang malam ini hampir sirna ditutup tabir malamku dan malamu
Kau masih jelita meski kau buta, tuli, begitupun mata bathin dan telingan kalbumu
Meski lahirnya cinta ini ganji dari rahim dunia maya, kerinduan ini mustahil
Tapi jasmani rohani ini diretas atas namamu, Hayat dan tersirat tiwikramamu

Cinta dunia maya, cinta tanpa tanda
Cinta tanpa cindera, Cinta hanya indera, hanya rasa
Cinta dunia maya, rindu, kecupan maya
Senyum, keriangan maya, hangat, pelukan maya

Kau secarik jiwa nan selalu jelita, dalam pesan, dalam kata, dan dalam hatimu...
Ya ciumanmu birahi maya, Ya sanjungmu belaian maya
Cinta dunia maya, cinta tanpa tanda
Cinta tanpa cindera, Cinta hanya indera, hanya rasa

Imanilah cinta ini wahai kekasih
Yakinilah bahwa setelah hujan pun reda, pelangiku dan pelangimu adalah pelangi yang sama
Yakinilah setelah badai pun berlalu, bintangku dan bintangmu adalah bintang yang sama
Sesungguhnya kita sangat dekat, aku dihatimu dan kau dihatiku

Cinta dunia maya, cinta tanpa tanda

Kamis, 02 Desember 2010

Bersumpahlah Demi Vodka Bu...Vodka Untuk Ibu...

Ditulis Oleh Edi Siswoyo
Diunggah Oleh Edi Siswoyo

Tinggal segelas, Vodka Untuk Ibu...Bersulang untuk kepalamu wahai Bapaku...

Beberapa menit yang lalu, tangan saya masih mencoba manggamit daun pintu kamar, untuk kemudian saya jatuh tersungkur dan berserapah "sakiiiitttt....anjiiiinnggg..." entah pada siapa serapah itu saya tujukan, yang pasti saat saya mencoba bangkit daun pintu itu menghamtam kepala saya, ternyata daun pintu yang tersinggung, saya mengulum senyum dan mengganti serapah saya"Toipah...Toipah...aku tresno karo koweee..."

Beberapa menit yang lalu, beberapa teman semasa sekolah memegangi tangan saya, sambil membisikan "Yaa Robbigfir Mustafaa...Baligh Maa qooshidanan..." saya diam sesaat dari tangisan saya, bukan sedang bertiwikrama, saya sedang menghimpun tenaga untuk kemudian menghardik mereka "Pergiiii....."

Hormat dari ananda untukmu Ibu...
Ibuku, yang dari beberapa menit yang lalu seraya menangis menyiramkan air kebadan saya meluap bak kemarahanya, air itu tidak berarti apa-apa bagi saya, tapi air matanya benar-benar membasuh fikiran dan akalku.

"Bangsat...Bangsat..." itu saja yang keluar dari mulut ini, padahal pada hati ini berteriak-teriak "Maaf bu...Maaf..."

Maaf dari kakak untuk adindaku...
Adindaku, yang dari bberapa menit yang lalu, seraya tangis dan kekesalanya nampak tak asyik membersihkan muntahanku yang berceceran dilantai, diseluruh badanku,mencoba menearik nak melepaskan baju dari badanku...Taukah dik kau sedang menarik setan yang bercokol difikiran dan nur ani saya.

Tapi subhanallah "Bodoh...Bodoh..." itu saja serapah yang mulut ini katakan, padahal pada hati saya menghardik-hardik "Sayang...Sayang..."

Saya adalah Einsten yang bodoh, penemu yang amti dari hasil temuanya, tak mengerti apa yang saya genggam pada tangan kiri dan kanan saya, sampai saya memukul-mukul kepala saya berkali-kali, dengan tangan kanan saya yang baru saya sadari ternyata sedang memegang pecahan botol, yang tadi saya pakai untuk mengancam Bapak saya, yang sekarang sosoknya sudah tidak saya temukan dari pandangan mata saya yang kabur, Bapaku kabur, hatiku kabur, sebentar lagi aku hancur

Adiku...kakakmu terbangun...tolong ambilkan lagi segelas vodka untuk merayakan kehancuran kakandamu
Adiku nan gemilang...ini lho kakakmu terbangun...jangan antas berlari, macam gadis dalam foto itu, yang sudah kuremah-remah, dia..dia..dulu meremah-meremah hatiku
Adiku...heeyyy...kakakmu terbangun...ambilah palu yang besar disudut hatimu, lalu hancurkan belenggu-belenggu ditangan dan otak kakak

Ibunda...Ini bu..anakmu nan bajingan itu...selepas bertukar gelas vodka pada kepalaku dan kepala Bapak,kini hilang ingatan
Ibunda...Ini anakmu nan bajingan itu...kutuklah Bu...Agar...agar...ehh..apaa...eee..tangismu tak terus menghancurkan anakmu Bu...
Kutuklah Bu...Kutuklah via tangismu

Sesalilah Bu...kenapa dulu kau tak membangun hijab tinggi untuk menutupi Ciu, Vodka, Mensen, Tuak, dan Arak Cap Anu tua dari mata anak-anakmu
Sesalilah Bu...kenapa ayah tak meminum vodka-nya sesudah aku terlelap, agar aku tak mendengar Bapak mencaci maki Ibu, seseudah dia mabuk
Sesalilah Bu...kenapa dulu ibu bilang itu minuman jamu,en saat aku iseng menanyakan "Kenapa Bapak selalu meminum minuman itu"
Sesalilah Bu...kenapa aku harus mendengar Ibu menangis selalu, manakala uang belanja yang tak seberapa dipakai untuk minuman gila ini...sesaliah Bu...

Bersumpahlah pada Vodka Tuhan untuk Bapak

Bersumpahlah pada Vodka Bu...Ibu tak akan menyimpan botolnya untuk menyemai bunga-bungamu ini
Bersumpahlah pada Vodka Bu...rumah kita tertutup untuk zombie-zombie yang berjalan gontai sempoyongan itu
Bersumpahlah pada Vodka Bu...asingkanlah nama-nama ciu, vodka, tuak, dan arak genderang telinga anak dan cucumu
Bersumpahlah demi Vodka Bu...Ibu tak akan menina-bobokan anak saya nanti dengan airmata yang jatuh didadanya...

Jika dayoh nan sempoyongan itu, aku akan memberiakan nyanyian ini untuknya

"eh...dayoh'e mambu...eh pakan'no asu, eh...dayoh'e mati eh..buang'no kali..
eh...dayoh'e mambu..."

KALA ITU

Angin berdesir kala itu Aku tahu kau suka angin itu Semilir menerpa jilbab panjangmu itu Senyuman kecilmu tanda kau suka itu Aku ingin berta...