Ditulis oleh Edi Siswoyo
25 Desember 2010
Diunggah oleh Edi Siswoyo
Dentang-dentang genta katedral
Ruhnya menggaung, pelan mengalir didanau hatiku
Menyelam kedalamanya, menyelamatkan kealpa'anya
Ar-Rahmaan-ku, ciumlah aku
Mutiara firman-Mu nan suci tiada tara
Mengucur memenuhi pialaku nan kotor
Cawan-cawan tersenyum dahagaku pun hilang
Ar-Rahmaan-ku, Basuhlah aku
Aku selalu salah Tuhan menerka kasih-Mu
Menangkap semua belas kasih-Mu dengan kata,Kurang...
Mengambil semua nikmat yang besar
Sedangkan kasih yang benar-benar besar lupa kusyukuri
Ar-Rahmaan-ku,ampunilah aku
Kini didepan altar sederhana-Mu
Kusembahkan semua kerapuhanku
Kau nan suci, Nabimu nan kudus
Ar-Rahmaan-ku, Sucikanlah aku
Yaa Rahmaanku, oborku telah mati
Kini biarkanlah jejak kami membara
Mata hati kami buta
Ar-Rahmaan-ku, bimbinglah aku
***
"Ba'da isya di akhir tahun 2012 adalah titik balik kehidupanku, tersingkapnya tabir semesta rahasia, aku yang selama ini terkungkum dalam gelap maju selangkah berbekal kekuatan hati, keteguhan fikiran, aku mantapkan langkah, aku hijrah"
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
KALA ITU
Angin berdesir kala itu Aku tahu kau suka angin itu Semilir menerpa jilbab panjangmu itu Senyuman kecilmu tanda kau suka itu Aku ingin berta...
-
Hemmm... Tegal, yang aku tanyakan pertama kali sesaat setelah mobilku menyentuh tapal batasnya adalah "Nasi lengko masih ada n...
-
Ditulis oleh Edi Siswoyo Diunggah oleh Edi Siswoyo Apa kabar… kegelisahan…? Aku yang mengunjungimu melalui kata Kau juga… Kesedihan…? Aku ya...
-
Pertama kali saya ucapkan terima kasih pada orang yang pertama kali mengajaku sekedar mampir di desa yang saat itu saya masih sebut desa...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar